Perbedaan Angka dalam Bahasa Jawa Ngoko dan Kromo Beserta Maknanya

Perbedaan Angka dalam Bahasa Jawa Ngoko dan Kromo Beserta Maknanya

Bahasa Jawa memiliki sistem tingkatan bahasa yang unik, yang membedakan penggunaan kata-kata berdasarkan tingkat kesopanan dan konteks sosial. Dalam percakapan sehari-hari, Bahasa Jawa terbagi menjadi tiga tingkatan utama: ngoko (kasual), madya (menengah), dan krama inggil (sangat sopan). Hal ini juga berlaku dalam penyebutan angka dalam Bahasa Jawa, yang memiliki perbedaan tergantung pada tingkatannya.

Angka 1-100 dalam Bahasa Jawa Ngoko dan Kromo

Dalam Bahasa Jawa, angka memiliki sebutan yang berbeda dalam tingkatan ngoko dan kromo. Ngoko digunakan dalam percakapan informal, sedangkan kromo lebih sering digunakan dalam situasi yang lebih formal dan penuh penghormatan.

Berikut adalah daftar angka dalam Bahasa Jawa beserta variasinya dalam ngoko dan kromo:

Bahasa Indonesia Bahasa Jawa Ngoko Bahasa Jawa Kromo
Satu Siji Setunggal
Dua Loro Kalih
Tiga Telu Tigang
Empat Papat Sekawan
Lima Lima Gangsal
Enam Enem Enem
Tujuh Pitu Pitu
Delapan Wolu Wolu
Sembilan Sanga Sanga
Sepuluh Sepuluh Sedasa

Untuk angka lebih besar, pola yang sama tetap digunakan. Misalnya, angka dua puluh dalam ngoko disebut “rong puluh,” sedangkan dalam kromo disebut “kalih dasa.”

Bahasa Indonesia Bahasa Jawa Ngoko Bahasa Jawa Kromo
Dua puluh Rong puluh Kalih dasa
Tiga puluh Telung puluh Tigang dasa
Empat puluh Patang puluh Sekawan dasa
Lima puluh Seket Seket
Enam puluh Sewidak Sewidak
Tujuh puluh Pitung puluh Pitung dasa
Delapan puluh Wolung puluh Wolung dasa
Sembilan puluh Sangang puluh Sangang dasa
Seratus Satus Setunggal atus

Makna Filosofis Angka dalam Bahasa Jawa

Angka dalam budaya Jawa tidak sekadar bilangan, tetapi juga memiliki makna simbolis dan filosofis yang mendalam. Beberapa angka tertentu dianggap memiliki arti khusus dalam kehidupan sehari-hari dan tradisi masyarakat Jawa:

  • Siji (1) – Setunggal: Melambangkan keesaan dan awal dari segala sesuatu.

  • Loro (2) – Kalih: Melambangkan keseimbangan dan dualitas dalam kehidupan, seperti siang-malam, baik-buruk.

  • Telu (3) – Tigang: Sering dikaitkan dengan konsep tiga pilar kehidupan dalam kepercayaan Jawa.

  • Papat (4) – Sekawan: Menggambarkan empat penjuru mata angin dan kestabilan.

  • Lima (5) – Gangsal: Menunjukkan kelima panca indera manusia.

  • Sanga (9) – Sanga: Sering dianggap angka yang memiliki energi spiritual dalam budaya Jawa.

Dalam kehidupan sehari-hari, pemilihan bahasa yang sesuai sangat penting dalam budaya Jawa. Menggunakan angka dalam tingkatan kromo menunjukkan penghormatan kepada lawan bicara, terutama kepada orang yang lebih tua atau dalam lingkungan formal. Sebaliknya, penggunaan ngoko lebih umum di kalangan teman sebaya atau dalam situasi santai.

Dengan memahami sistem angka dalam Bahasa Jawa, kita tidak hanya belajar tentang bilangan, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap kata dan penggunaannya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa.

Eko Nugroho